Di MTs Ma’arif NU Nurul Amin, dalam satu bulan Ada satu hari yang dinanti dengan semangat dan antusiasme oleh seluruh warga sekolah, yaitu hari Jumat manis. Pada hari ini, seluruh siswa, guru, dan staf berkumpul untuk mengikuti kegiatan yang dikenal sebagai Jumat Manis. Tradisi ini bukan sekadar ritual rutin, tetapi telah menjadi simbol kebersamaan dan cinta terhadap Al-Qur’an yang mengakar kuat dalam budaya sekolah.

Pada pagi hari yang tenang, suasana sekolah berubah menjadi penuh khidmat. Para siswa berkumpul di kelas masing-masing, duduk rapi dengan Al-Qur’an di tangan. Bukan hanya siswa, guru-guru dan staf turut berpartisipasi, menjadikan kegiatan ini sebagai momen istimewa yang mempererat hubungan kekeluargaan di antara seluruh warga sekolah.



Jumat Manis adalah waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah sambil membangun kehangatan batin dalam kebersamaan.
Kegiatan dimulai dengan sambutan singkat dari seorang guru, yang mengingatkan akan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Kata-kata bijak dan motivasi yang disampaikan menjadi inspirasi, membangkitkan semangat di hati para siswa untuk senantiasa memuliakan Al-Qur’an.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan khataman Al-Qur’an yang dilakukan secara bergiliran. Setiap kelompok siswa membaca bagian tertentu, menciptakan lantunan ayat-ayat suci yang mengalir lembut, memenuhi ruangan dengan suasana penuh berkah.

Bagi siswi yang sedang berhalangan atau haid, Jumat Manis juga menyediakan kegiatan khusus yang tak kalah bermakna, yaitu membaca sholawat hingga khataman selesai. Dengan begitu, setiap individu di sekolah tetap dapat merasakan hikmah dari kegiatan tersebut dan berpartisipasi dalam momen ibadah bersama.

Jumat Manis juga diisi dengan amalan Shadaqah Jumat Legi, yang dilakukan pada Jumat yang bertepatan dengan pasaran Legi dalam penanggalan Jawa. Pada hari itu, siswa-siswi membawa donasi dengan niat atau doa yang diperuntukkan bagi arwah almarhum dan almarhumah, baik dari keluarga atau leluhur mereka. Tradisi ini menggugah kesadaran spiritual para siswa tentang pentingnya berbagi dan berdoa untuk mereka yang telah tiada, sekaligus mengajarkan bahwa sedekah memiliki nilai keikhlasan yang mendalam.

Acara dilanjutkan dengan bacaan tahlil dan mahallul qiyam bersama-sama. Pada saat inilah suasana khusyuk dan penuh haru semakin terasa. Satu per satu doa dipanjatkan, tidak hanya untuk kebaikan warga sekolah tetapi juga untuk keluarga dan kerabat mereka, memohon keberkahan, keselamatan, dan perlindungan dari Allah SWT.

Setelah khataman dan doa bersama selesai, momen kebersamaan pun berlanjut dengan kegiatan makan bersama. Siswa-siswi menikmati hidangan Nasi Barokah Jumat Legi, nasi yang telah mereka bawa dari rumah masing-masing. Hidangan ini tidak hanya sebagai simbol rasa syukur tetapi juga menjadi ajang berbagi rezeki. Tradisi Nasi Barokah ini dipercaya membawa keberkahan dan diiringi doa agar mereka yang mengonsumsinya mendapat kelimpahan rahmat dan keselamatan.



Jumat Manis bukan hanya sekadar Rutinan, tetapi telah menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual dan sosial di MTs Ma’arif NU Nurul Amin. Melalui kegiatan ini, siswa-siswi belajar untuk mencintai dan akrab dengan Al-Qur’an, menguatkan iman, serta menghayati makna kebersamaan yang sesungguhnya. Setiap pekan, mereka termotivasi untuk terus memperbaiki bacaan Al-Qur’an, memahami arti yang terkandung, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi Jumat Manis yang digagas oleh MTs Ma’arif NU Nurul Amin adalah cerminan nyata dari visi sekolah untuk melahirkan generasi yang berakhlak mulia dan mencintai Al-Qur’an. Inilah bentuk nyata pendidikan berbasis nilai spiritual yang tidak hanya memberi ilmu tetapi juga menanamkan kebiasaan positif dan nilai kebersamaan yang menjadi kebanggaan sekolah. Kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menumbuhkan cinta pada Tuhan dan sesama.




Dengan semangat ini, MTs Ma’arif NU Nurul Amin Jatiroto terus berkomitmen dalam mendidik generasi muda yang berakhlak qur’ani, yang kelak menjadi pribadi unggul dan membawa kebaikan bagi masyarakat.
